Anugerah-Mu Yaa Rabb

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa kelebihanku hanya titipanNya, bahwa rumahku hanya titipanNya, bahwa hartaku hanya titipanNya, bahwa keluargaku hanya titipanNya.
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini padaku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk miliknya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku? Mengapa hatiku justru merasa berat, ketika titipan itu diminta kembali olehnya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, seolah semua ”derita” adalah hukuman bagiku, seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknya derita jauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas ”perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tidak sesuai dengan keinginanku.
Gusti,
Padahal setiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
”Ketika langit bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja” (WS Rendra)

Jangan Singkirkan Kado yang Tidak Kita Suka

Tak ada orang yang bisa menyenangkan semua orang. Terkadang atau mungkin sering, kita menerima kado yang tidak kita suka. Lalu, hendak kita apakan hadiah yang tak berkenan di diri kita itu? Bingung? Untuk berkompromi dengan pemberian yang tak sesuai dengan selera kita, ada sejumlah saran.
1. Tanamkanlah rasa terima kasih di diri kita, lepas dari kita suka atau tidak akan hadiah itu. Hargailah si pemberi yang sudah mencurahkan perhatian serta membelanjakan waktu dan uangnya untuk kita, seburuk apapun seleranya.
2. Camkanlah bahwa pemilihan yang dilakukan oleh si pemberi atas barang itu bersifat sangat subyektif, bergantung kepada cita rasa pribadinya.
3. Kado itu dari siapa? Kalau yang memberinya orang-orang tersayang kita, seperti anak atau kakek-nenek kita, pertahankanlah hadiah tersebut karena alasan sentimentalnya. Kita kan tak akan mati cuma gara-gara sekali-sekali mengenakan sweater bergambar teddy bear demi menyenangkan hati mereka?
4. Jangan menghadiahi lagi pemberian yang kita tidak suka kepada orang-orang lain yang kita sayangi. Lebih baik anda menyumbangkannya dalam rangka aksi amal.
5. Namun, yang lebih penting dari semua itu, bagaimanapun cara kita menyingkirkan kado itu, kita akan mengguncang si pemberi ketika ia tahu. Betapa tidak? Ia merasa telah membuat sebuah pilihan yang bagus. Seberapa sih kita rugi kalau mendapat sesuatu yang bukan kesukaan kita, dibandingkan dengan jika kita menimbulkan masalah dan membuat sakit hati si pemberi?

Mengeluh.....

Hari ini sebelum kita mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak bisa berkata-kata sama sekali.
Sebelum kita mengeluh tetang rasa dari makanan kita, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum kita mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.
Sebelum kita mengeluh bahwa Anda mungkin buruk, pikirkan tentang seseorang yang ada pada tingkat yang terburuk dalam hidupnya.
Sebelum kita mengeluh tentang pasangan kita, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepaada Tuhan untuk diberikan teman hidup.
Hari ini…
Sebelum kita mengeluh tentang hidup kita, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat. Banyakkan belakangan ini teman-teman kita yang masih begitu muda… Lah kok meninggalnya cepat sekali.
Sebelum kita mengeluh tentang anak-anak, pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tapi dirinya mandul.
Sebelum kita mengeluh tentang rumah kita yang kotor karena pekerja rumah tangga tiodak mengerjakan tugasnya, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan.
Sebelum kita mengeluh tentang jauhnya kita telah menyetir mobil, pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan.
Dan…
Disaat kita lelah dan mengeluh tentang pekerjaan kita, pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat, yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti kita.
Sebelum kita menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain, ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa.
Beberapa kali saya pernah ditanya oleh seseorang, mungkin Anda pernah tahu bahwa dalam kehidupan saya yang dulu. Saya pernah mengalami sebuah penyakit yang hampir-hampir saja membuat saya tidak ketemu Anda hari ini.
Kemudian banyak orang bertanya, kenapa bisa bertahan? Karena saya tertawa. Saya banyak tertawa. Mungkin saat itu banyak orang yang tidak tahu bahwa saya sakit.
Oh… tertawa itu menyembuhkan
Iya… tertawa itu menyembuhkan. Dan saya selalu mengatakan, ”Saya melihat banyak orang yang sakit jauh lebih parah dari saya dan mereka bertahan. Dan saya mengambil pelajaran yang luar biasa dari kehidupan itu”.
Jadi kalau Anda hanya pilek atau kesleo, atau sakit lutut biasa saja, tapi Anda mengeluh saja dengan hidup Anda. Mungkin, Insyaallah… Anda akan meninggal lebih dulu dari pada orang yang sakit jauh lebih berat dari Anda.
Berhentilah mengeluh. Hidup itu luar biasa. Hidup itu indah.
Dan nikmatilah anugerah hidup yang hari ini Anda dapatkan di depan mata Anda.